Kapal Asing sudah tak ada, Kenapa produksi lokal tak meningkat ?


Dengan di berlakukan aturan tentang larangan kapal asing untuk menangkap di perairan indonesia setidaknya sumber daya ikan bisa pulih dan berkembang. Dan sesudah pulih maka dengan sendiri nya nelayan lokal bisa menikmati melimpahnya sumber daya ikan tersebut. Tetapi pada kenyataannya malah berbanding terbalik dimana tingkat produktivitas hasil tangkapan malah menurun.
Penurunan produktifitas inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan selanjutnya bagi pemerintah dalam hal ini kementrian kelautan dan perikanan sebagai pengatur regulasi untuk memperhatikan nasib nelayan dalam hal ini nelayan kecil dan tradional.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan produktifitas perikanan menurun diantaranya adalah :
- 1. Syarat dan proses izin penangkapan.
Padahal untuk mengurus syarat dan perizinan sekarang sudah di permudah dengan adanya gerai di setiap daerah dan adanya pengurusan online.bahkan pengurusan online sekarang bisa satu pintu. Pengurusan online
Merupakan salah satu layanan yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada masyarakat (perorangan/koperasi/ perusahaan swasta nasional) yang ingin mengajukan permohonan perizinan kegiatan usaha perikanan tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia dan laut lepas, yang meliputi ijin usaha perikanan, ijin penangkapan ikan, ijin pengangkutan ikan, dan ijin penangkapan serta pengangkutan ikan dalam satuan armada penangkapan ikan.
Izin Usaha Perikanan 
adalah izin tertulis  yang  harus  dimiliki  untuk  melakukan  usaha  perikanan  dengan menggunakan sarana produksi yang tercantum dalam izin tersebut.
Izin Penangkapan Ikan
adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk melakukan penangkapan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SIUP
Izin Kapal Pengangkut Ikan 
adalah izin  tertulis  yang  harus  dimiliki  setiap  kapal  perikanan  untuk melakukan  pengangkutan  ikan  yang  merupakan  bagian  tidak terpisahkan dari SIUP

- 2. Nelayan dan calon tenaga perikanan beralih profesi
Nelayan banyak yg alih profesi kerja didarat, alih penyetaraan ijasah ANT/ATT kapal niaga/penumpang, migrant jadi pelaut perikanan ke LN, resignt kerja dari nelayan. dan para tenaga tenaga yang handal dalam perikanan lebih senang untuk menjadi pegawai karena dalam hal ini perikanan lokal yang belum menjanjikan terhadap kelayakan hidup.
Memang tidak salah apabila nelayan dan tenaga perikanan itu beralih profesi tetapi bagi pemerintah itu sebuah masalah dan tantangan. Apabila sumber daya yang melimpah ini tak ada yang memanfaatkan lalu apa arti dari pemulihan sumber daya yang di canangkan oleh kementrian.

- 3.Kurangnya minat investor di perikanan
Nelayan stop investasi operasional takut bersalah dan dibui dan bangkrut karena aturan gonta-ganti tidak kondusif. itu salah satu dari ketidak pastian hukum untuk para nelayan. Mending stop rugi daripada bangkrut habis total. dan itupun merupakan ketakutan nelayan yang tidak mau melaut kembali. apalagi yang baru mau terjun ke dunia perikanan maka di pastikan investor akan berfikir ulang.
Belum lagi keuntungan yang tidak pasti karena di lautan selain bertarung dengan musim dan ombak. Nelayan lokal harus bertarung dengan para oknum pelaku Pungli.Akibatnya terjadi pengangguran nelayan dan buruh pabrik yg PHK kekurangan bahan baku ikan. Dari 2,7 juta nelayan yg sisa aktif kurang dari 1 juta orang. Data itu di asumsikan dengan tidak melautnya nelayan cantrang di wilayah pantura dan beberapa kapal yang masih mangkrak di pelabuhan pelabuhan

Related Posts:

0 Response to "Kapal Asing sudah tak ada, Kenapa produksi lokal tak meningkat ?"

Post a Comment