Indonesia dan mutiara laut selatan

Indonesia dan Mutiara laut selatan


Kita di Indonesia dikaruniai tempat yang luar biasa untuk pembudidayaan mutiara, tetapi untuk sementara hasil itu belum maksimal kita nikmati. Orang luar lebih banyak mengambil hasilnya, orang luar pula yang mendapat nama baik. Indonesia yang kaya akan sumber daya laut hanya bisa menjadi penonton di perdagangan mutiara air laut. Itu sepenggal paragraf yang menggambarkan tentang kondisi mutiara kita.  Sebelum kita berbicara tentang perkembangan mutiara di Indonesia alangkah baik nya kita mengetahui dahulu apa itu Mutiara


Mutiara adalah sejenis batu permata dalam berbagai bentuk, hasil biomineralisasi kerang dan siput anggota moluska (filum Mollusca ) Mutiara alami terbentuk karena iritasi yang disebabkan oleh sesuatu yang asing yang masuk ke dalam kerang. Mekanisme pertahanan diri akibat gangguan iritasi ini menghasilkan nacre yang terkomposisi sebagian besar dari kalsium karbonat.Walau semua kerang dan siput dianggap dapat menghasilkan mutiara, namun tidak seluruhnya menghasilkan mutiara dengan kualitas yang dapat diterima sebagai perhiasan.
Mutiara yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa yang akan datang, hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pasar mutiara dunia saat ini didominasi oleh  4 jenis mutiara yaitu;
a) Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) dengan negara produsen adalah Indonesia, Australia, Filipina dan Myanmar,
b) Mutiara Akoya (Akoya Pearl) dengan negara produsen adalah Jepang dan China,
c) Mutiara Hitam (Black Pearl) dengan negara produsen adalah Tahiti, dan
d) Mutiara Air Tawar (Fresh Water Pearl), dengan negara produsen adalah China.
Untuk jenis Mutiara laut selatan berasal dari jenis tiram Pinctada maxima dengan sentra budidaya yang tersebar di beberapa daerah diantara ; Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sumatera
Penguatan daya saing produk” tidak hanya kuantitas, kualitas dan promosi perlu di tingkatkan “
Kementrian kelautan dan perikanan sudah berupaya untuk terus meningkatkan daya saing produk mutiara laut selatan untuk terus menjadi no 1 di dunia. Selama ini kita mampu memasok kebutuhan tentang mutiara air laut selatan hingga sampai 43 persen kebutuhan akan mutiara air tawar. Tetapi dari sisi perdagangan mutiara laut selatan kita masih no 2 kalah dengan Australia. Dan untuk nilai perdagangan di dunia untuk semua jenis mutiara kita di urutan Sembilan.
Ada beberapa Pekerjaan rumah agar selain memproduksi banyak jenis mutiara laut selatan. KKP di tuntut juga agar bisa menaikan nilai perdagangan. Langkah langkah yang sudah di lakukan oleh kementrian yang di pimpin oleh ibu menteri Puji astute sudah sangat banyak diantara :
  •  Pembangunan Broodstock Center kekerangan di Karang Asem, Bali;
  •  pembentukan dan Penguatan Sub Komisi Mutiara Indonesia (SKMI),
  •  Yayasan Mutiara Laut Indonesia (YMLI) dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia(ASBUMI);
  •  Mendorong terbitnya Standar Nasional Indonesia (SNI) Mutiara 4989:2011;
  •  Menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.8/PERMEN-KP/2013 tentang Pengendalian Mutu Mutiara yang Masuk ke Dalam Wilayah Negara RI;
  • Membangun Rumah Mutiara Indonesia sebagai Pusat Promosi Pemasaran dan Lelang Mutiara;
-       penyelenggaraan Indonesian Pearl Festival, dan kegiatan promosi lainnya baik di dalam maupun di luar negeri.Dari semua aspek yang sudah sangat banyak ini factor untuk menguatkan daya saing produk agar bisa menggenjot nilai perdagangan ada pada promosi. Dan langkah langkah promosi yang perlu di tambahkan agar bisa lebih menggenjot nilai perdagangan dan meraih predikat penghasil terbaik dari jumlah dan kualitas maka yang perlu di lakukan diantara :

close
Indonesia dan mutiara laut selatan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: zavira khan

0 komentar:

Post a Comment